Buku ini buku kedua yang saya baca, setelah Supernova. Pagi-pagi ketika mau berangkat ke kampus, saya mencomotnya dari rak buku di rumah, dan mulai membacanya ketika sudah duduk di kereta. Buku ini habis daam waktu 2 hari, jadi kira-kira 4 jam setelah membaca, tebal buku 300 halaman.
Menurut saya, buku ini sangat bagus, di dalamnya kita dibawa menjelajahi alam pengalaman setiap “priyayi”, dari kakek-anak-cucu-ponakan-istri dari keluarga “priyayi” dari Wanagalih. Tiap pikiran digambarkan dengan detail, tiap suasana digambarkan dengan rapi, dan tiap lokasi mendapatkan kata-kata yang tepat. Saya kagum pada kemampuan Pak Umar Kayam untuk menjelaskan jalinan waktu antara orang-orang yang menjadi tokoh di novel ini.
Salah satu pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini adalah, nasib bisa merubah seseorang, tapi kalau tidak sungguh-sungguh, ya sama aja bo’ong.
Kalau saja, saya tahu Wanagalih dan Wanalawas itu dimana.
bukannya nasib gak bisa berubah, exactly..
nasib hanya diketahui setelah orang mengalami kejadiannya, bukan sebelumnya
Oleh: warmorning on 22.07.2008
at 11:31:22