Buku pertama minggu kemarin yang saya baca adalah “Supernova, Ksatria, Puteri, dan Bintang jatuh”, karangan Dee. Sebelumnya saya pernah baca beberapa halaman, tapi tidak selesai karena keburu pergi entah ke mana bukunya. Setelah saya baca, kira-kira perasaan saya antara bingung dan kelabu. Bukan, bukan mengatakan novelnya jelek atau tidak bagus. Tapi saya benar-benar bingung dibuat oleh banyaknya kata-kata yang tidak biasa, mungkin karena yang ngomong jenius yang dapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat ya? Kedua, masalah fontasi,yang rasa-rasanya membuat bingung atau tepatnya tidak enak bagi saya yang biasa membaca dengan 1 jenis fonta saja. Buat saya, dengan perbedaan ukuran fonta, tipe fonta normal, tebal, dan miring sudah cukup, atau malah sudah sangat mewarnai cetakan. Buku ini terkadang mengandung 3 ukuran dan 2 buah fonta berbeda, yang malah rasanya seperti membaca iklan.Kelabu, ya batas-batas antara dunia nyata, pikiran, dongeng, dan novel karangan pasangan gay itu menyatu dengan kelabu, entah kenapa saya merasakannya begitu. Mungkin karena saya membacanya terlalu cepat, 200 sekian halaman kubaca dalam waktu sekitar 2 jam.
Mungkin saya setuju saja dengan pendapat Pak Sujiwo Tedjo di belakang buku, kira-kira bunyinya: yang biasa membedakan fiksi-nonfiksi akan kecewa dengan buku ini. Saya tidak kecewa, tapi memang itu: bingung dan kelabu.
Eh, kok web truedee dot com udah nggak ada lagi ya?