Saya masih ingat ketika dari bapak saya, saya mendapatkan kaset Suharto, Bapak Pembangunan Indonesia.
Saat iniĀ saya berpikir, betapa tepatnya istilah itu. Kita punya Soekarno yang mendirikan, kemudian Soeharto yang membangun. Presiden lain saya bukannya tidak hormat, tapi menurut saya, tidak mampu melihat dan melaksanakan apa yang dibutuhkan Indonesia dalam jangka waktu panjang.
Indonesia masih butuh gaya diktator, saya berpendapat, karena sifat bangsa kita adalah tidak punya disiplin. So we need somebody to enforce it. Efek sampingnya memang ada, perang, pembunuhan, petrus (tembak di tempat), tapi dengan itu, pada jaman Soeharto-lah Indonesia menjadi sangat stabil. Mungkin Aceh menderita, Timor Timur juga, tapi seperti kata teman saya, kematian satu cakram keras adalah tragedi, tapi kematian satu juta cakram keras adalah statistik.
Saya juga teringat Hatta rasanya pernah berujar tidak mau menjadi Presiden, well, beliau menjalankan tugasnya dengan baik sekali menjadi orang nomor dua.
Saran saya, Presiden Indonesia selanjutnya perlu belajar ilmu perang, ilmu kebatinan, ilmu tata negara, ilmu pers, dan ilmu politik sekaligus, seperti yang Seokarno dan Soeharto punya, sebelum umur 40 tahun. Sampeyan tidak bisa menguasai 200 sekian juta orang tanpa ilmu yang benar-benar-benar-benar mumpuni, kan?
Turut berduka cita atas meninggalnya Soeharto. Semoga kebaikkannya dibalas, kesalahannya diampuni. Either we like it or not.